Pergilah, tak pamit pun tak apa.

  Covid-19, atau lebih dikenal Corona, mungkin hal ini sudah tidak asing lagi didengar oleh masyarakat Indonesia, terlebih oleh penduduk dunia. Virus ini viral, menyebar tanpa batasan, tanpa halangan, dan tanpa jangkauan. Virus ini tak kenal waktu, tak kenal dimana, dan tak kenal dengan siapa iya akan hinggap, dengan siapapun dan sesukanya. Semua berjalan dengan begitu cepat. Yang awalnya dunia bereuforia dengan hidupnya masing-masing, berbalik keadaan.

  Dunia bergoncang, dunia seperti dibasahi hujan dengan bersamaan. Bahkan dunia seperti burung dalam sangkar, yang senantiasa bersiul, bersorak meminta pertolongan, tapi tanpa adanya penolong. Semua dunia menjerit, melambungkan doa, memanjatkan duka sedalam dalamnya. Bahkan, saking betahnya Corona di dunia, semua seperti menjadi hal yang sudah biasa. Corona seperti dianggap teman sendiri, bahkan masyarakat Indonesia banyak yang tidak mempercayai keadaannya, dengan alih-alih, virus itu hanya tipu daya belaka. Hal ini tak hanya dirasa oleh masyarakat indonesia, bahkan seluruh isi dunia pun merasa apa yang terjadi saat ini.

  Pemerintah yang kebingungan, ekonomi yang terus terjungkal kehabisan, toko dan pabrik ditutupkan, para pekerja diliburkan, dan terutama dunia pendidikan yang sekarang terlumpuhkan. Bahkan, untuk sekedar bersalaman dengan kawan pun tidak diperbolehkan. Dan parahnya lagi, senyuman ramah yang menjadi ciri khas bangsa kita ditutupi oleh masker yang sekarang menjadi sebuah kewajiban. Semua telah tertakdir, tak mungkin hanya sandiwara yang bikin nyengir.

  Semua yang telah terjadi, adalah rangakaian indah yang sudah tuhan kehendaki. Semua ada masanya. Dan semua pasti akan hikmahnya. Untuk sekarang, sabar, ikhtiar, dan tawakal adalah kunci mengelabui virus corona ini. 


Komentar